Jumat, 18 Oktober 2013

SEPERTI MADU DARI TAMAN SURGA


 
Izinkan ku semai rindu pada angin-angin berlalu-lalang. Dan katakan pada jiwa yang hidup tentang hakikat cinta yang suci. Dimana para pemetik anggur cinta? yang menyuguhkan sesaji aneka tuak-tuak memabukan hati dan raga.

Dari kaca jendela rumah sakit, ku tatap awan berarak. Hari itu langit tampak tak bersahabat, sepertinya hari akan hujan. Dari halaman rumah sakit, ku lihat ibuku, Ia tampak sedih dan bingung. Sebenarnya melihat kondisi ibu yang demikian, aku tak tega. Tapi niat baik ini harus terlaksana. Ini demi kekasihku. Akan ku donorkan satu bola mata untuk kekasihku, Bima.

Seperti janji yang telah terukir bahwa kita adalah satu jiwa . Cinta ini harus manjadi pertama dan yang terakhir. Tak peduli apapun halangan dan rintangan, aku hanya ingin hidup dan mati bersamanya.

Hujan akhirnya turun hari itu. Ibu beserta keluargaku sudah sedari tadi masuk menemani.

 “Ini hanya operasi kecil, bu!” kata ku.
“Operasi kecil bagaimana?! Apa kamu tidak merasa kalau matamu akan hilang sebagian? Penglihatanmu nanti tidak akan sejelas hari ini. Ibu ingin menangis saja melihat aksi nekatmu! ” ibu tampak sedih.
“ Ini untuk Bima bu! Ibu tau kan Bima itu siapa?. Bukankah ibu sudah menganggapnya sebagai anak lelaki ibu?”
“ Terserah kamu Dian ! itu sudah menjadi keputusanmu.”
                                                            ***

Tim dokter pun datang. seorang perawat melakukan injeksi sebuah antibiotika demi memperlancar proses operasi. Keluargaku berdo’a dimasjid dekat rumah sakit. Beberapa pembantu dan supir pribadi orang tuaku pun ikut berdo’a. Selama beberapa jam tim dokter beroperasi, sampai akhirnya selesai. Opersi berhasil. Kemudian kami menunggu kabar berikutnya tentang Bima…

Sejak dua bulan yang lalu, Bima mengeluh padaku soal kelainan yang dirasakan pada matanya. Sebagai orang terdekatnya, aku merasa prihatin. Apalagi saat ia bilang kalau dokternya menyarankanya untuk melakukan  operasi. Waktu itu Bima menolak sampai akhirnya menjadi buta. Aku tidak rela apabila melihat keadaan kekasihku yang seperti itu. Aku pun menawarkannya satu bola mataku. Ini adalah sebagai bukti rasa cintaku.

Malam setelah aku melakukan operasi, keluargaku tidur dirumah. Hanya ada seorang pembantu yang menemaniku. Bi Siti pembantuku  sedang melaksanakan sholat isya. Dalam ketidaksadaranku, aku masih bisa  mendengar suara derap kaki seseorang menuju ruanganku. Sepertinya suara lelaki! ia membisikiku sesuatu. Ingin rasanya aku terbangun  agar aku bisa berbicara padanya, dan melihat siapa orang itu. Tetapi pengaruh obat bius seakan memasungku. Rupanya, bi Siti mengetahui  bahwa orang tersebut  baru saja keluar dari ruanganku. Ia pun mengikuti kemana arahnya menuju.

Hari selanjutnya setelah operasi . Keadaanku terlihat sangat sehat. Keluargaku hadir semua. Akupun merasa sangat bahagia karena meskipun satu mataku buta, namun aku masih bisa melihat. Kemudian aku meminta ibu untuk mengantarku dengan kursi roda menuju kamar Bima. Bima diruangannya masih tertidur. Aku hanya dizinkan oleh pihak rumah sakit, agar melihatnya hanya melalui kaca. menurut pihak rumah sakit, Bima tidak boleh dijenguk dari arah yang dekat. Harus ada sekat yang menghalanginya. Aku pikir mungkin karena sakit yang ia derita sangat parah.

Seorang suster  berjalan menuju kamar sebelah, aku pun bertanya padanya.
“ Suster, tunggu sebentar! Bisa beritahu saya bagaimana keadaan pasien bernama Bima Bastian dikamar nomor 2?” tanyaku.
“ Oh, mas Bima ? dia baik-baik saja bu. Jangan khawatir!”
“ Apa operasinya berhasil?” tanyaku lagi.
“ Em.., operasi? Operasi apa?” suster itu merasa aneh.
“ Apa suster tidak tahu kalau mas Bima baru saja melakukan operasi kemarin? Operasi mata!”
“ Bukankah mas Bima sudah melakukan operasi mata bulan lalu?” celetuk suster yang polos itu.“
“ Apa? Bukan suster.., dia baru saja melakukannya kemarin.”
“ Oh..,mungkin saya yang keliru!” ucap suster  agak aneh.

Kemudian  suster melanjutkan pekerjaannya. Ia menuju kamar sebelah untuk memeriksa  TTV dan mengganti  cairan impus mereka. Aku dan ibu pun menuju kamar. Aku merebahkan diri ditempat pembaringan. Ibu mengiriskanku buah apel dan pear, lalu menyuapkannya satu persatu pada mulutku.setelah ibu pamit pulang, aku hanya ditemani bi Siti. Sepertinya bi Siti sangat iba melihatku. Ada sebuah teka-teki dimatanya, tapi aku tidak tahu teka-teki apa?.

Bi Siti memijat kaki dan tanganku. Ia hanya bercerita tentang anak gadisnya didesa, yang sudah beranjak dewasa. Bi Siti sangat baik terhadap keluargaku. Dia sudah bekerja dirumahku sejak aku masih balita.

Bi Siti adalah orang yang soleha, dia bukanlah orang yang suka menyakiti hati seseorang. Bahkan sebaliknya bi Siti ingin agar ia bisa menyenangkan orang- orang disampingnya. Tetapi rahasia yang ia pendam merupakan petaka untukku.
Beberapa hari kemudian, aku diizinkan pulang. Begitu pun dengan Bima.
                                                                        ***
Pagi yang cerah. Aku menelpon Bima untuk mengajaknya jalan-jalan.
“ Hallo Bima?”
“ Dian? Ada apa sayang?”
“ Apa kamu merasa baikan?”
“ Saya baik-baik saja. Kamu sendiri ?”
“ Saya juga baik. Bagaimana kalau hari ini kita jalan? Pak Rhido bisa mengantar kita kemanapun kita pergi!”
“ Bagaimana kalau besok? Hari ini saya ada janji dengan teman.”
“ Ok.”

Akhirnya aku pergi sendiri diantar pak Rhido. Aku menuju Spa. Di Spa itu, aku melihat mobil Bima parkir disalah satu caffe didekat Spa. Tapi aku mengabaikannya, karena mungkin itu hanya mobil orang lain. Aku pun memasuki  Spa  untuk merelaksasikan  seluruh otot-otot tubuhku.

Setelah dari Spa  aku menuju klinik untuk menebus obat yang habis. Tapi saat aku hendak pergi, pandangan mataku kabur dan kepalaku sakit. Aku mersa sakit tersebut sangat kejam. Aku tidak pernah merasakannya sebelumnya. Disaat sakit yang maha itu, ku lihat Bima sedang bercanda gurau dengan seorang gadis berkulit putih dan berambut panjang. Ingin rasanya menghampiri mereka dan ikut bersama gelagak tawa itu. Tapi  aku tidak tahan, sungguh sangat sakit. Bayangan terakhir sebelum aku jatuh pinsan, yaitu tentang kebahagiaan Bima dan gadis yang ku kira sebagai temannya itu.

“ Neng.., neng  Dian! Sadar neng! Apa yang terjadi?” pak Rhido membangunkan aku.
“ Ada apa pak?” kata tukang ojek.
“ Bang, tolong bang! anak bos saya tiba-tiba pinsan.”
“ Cepat bawa ke rumah sakit pak! Mari saya bantu membopong!”

Mereka pun membawa aku ke rumah sakit. Dokter pribadi keluargaku datang menjenguk keadaanku. Dan semua anggota keluarga dibuat khawatir olehku!. Aku mendengar suara-suara mereka:  ayah, ibu, tante, paman, dan keponakanku. Hanya Bima yang tidak hadir, padahal aku hanya ingin berada disisinya, mendengar suaranya.

Saat itu, bi Siti melihat keadaanku dari balik pintu rumah sakit. Airmatanya meleleh menyaksikan keadaanku. Setelah dari rumah sakit, bi Siti mencari keberadaan Bima. Ia ingin memberitahu Bima soal keadaanku yang kritis. Sementara, tim dokter sedang berunding mendiskusikan  untuk mengabil langkah terbaik untukku.

“ Apakah ini dengan keluarga nona Dian?” kata dokter.
“ Iya dok, saya ayahnya.” Jawab ayah.
“ Pak, kami beritahukan pada anda bahwa  mata putri anda terkena infeksi. Penyebabnya masih belum kami ketahui, yang pasti kami harus melakukan operasi kepada putri anda untuk kedua kali.”
“ Bagaimana ini bisa terjadi dokter! Bukankah pihak rumah sakit sudah memastikan bahwa putri saya sehat walafiat?” kata ayah.
“ Maaf pak, ini diluar dugaan kami. Dari tinjauan medis, kami sudah melaksanakan protap yang ada. Kami harap bapak  bisa mengizinkan tim dokter untuk melakukan operasi sekali lagi. Kalau tidak, infeksi tersebut bisa menjalar ke seluruh tubuh dan membahayakan nyawa putri anda.”

Disaat genting, orang tuaku mengambil keputusan. Merekapun menyetujui surat perjanjian untuk melakukan operasi kedua untukku. Hari itu juga tim dokter bekerja. Sedangkan Bima  sedang berseteru dengan bi Siti didepen caffe shop tadi.
“ Mas Bima, saya mohon jenguklah neng Dian dirumah sakit!” kata bi Siti.
“ Bibi ini ngomong apa? Saya barusan berbicara lewat telepon dengan Dian. Dia baik-baik saja tuh!”  kata Bima 
“ Percayalah mas..”
Anah (kekasih simpanan Bima ) pun datang. Ia tersenyum menyapa bi Siti.
“ Siapa bibi ini sayang? “ Tanya Anah.
“ Seorang pembantu.” Jawab Bima.

Akhirnya bi Siti pulang. Ia menuju rumah sakit. Dalam perjalanannya, ia menangis. Apalagi setelah ia tahu bahwa kedua mataku buta. Orang tuaku pun sedih bukan main. Putri satu-satunya tercinta, kini kehilangan semua indra  penglihatannya. Tim dokter mengatakan, didalam mataku terdapat benda asing yang masuk, sehingga menginfeksi  mataku. Kejadian yang aku alami ini bukan kesalahan pihak medis, melainkan suatu musibah yang tidak diinginkan.

Mengetahui kenyataan bahwa aku adalah seorang tunanetra hatiku merasa sakit. Namun ada sedikit rasa ikhlas karena tujuanku sebelumnya yaitu untuk menolong kekasih tercintaku “Bima”. Diranjang pesakitan, aku ditemani orang tuaku. Ada juga bi Siti yang setia dan mendo’akan aku. Dalam gelap ini,aku hanya membayangkan senyuman Bima terakhir kala itu. Didalam bayanganku, gadis manis temannya itu pun terlintas.
“ Bu, kemana Bima?” Tanya ku pada ibu. Ibuku bertanya lagi pada
 Bi Siti.
“ Kemarin waktu neng Dian tidur, mas Bima datang menjenguk eneng.” Kata bi Siti berbohong. Dalam hati aku merasa curiga karena aku yakin bahwa Bima tidak pernah menengokku.
Setelah kedua orang tuaku pergi, aku bertanya dari hati ke hati dengan bi Siti.

“Bi, katakan jujur padaku, apa yang bibi ketahui tentang Bima?”
“ Maaf neng, bibi tidak tahu!”
“ Aku mohon bi.. katakana apa sebenarnya yang terjadi pada Bima? Aku tahu bibi menyimpan suatu rahasia. Cepat bi!” aku memaksa bi Siti untuk bercerita. Ia pun bercerita.
“ Mas Bima berpacaran dengan perempuan lain neng! Dan mereka sejak lama membina hubungan. Sebelum neng Dian mengenal mas Bima pun mereka sudah berpacaran!”
“ Bibi ini lancang! Bagaimana bibi tahu?”
“ bibi tahu neng! Bibi sudah melihat dengan mata kepala bibi sendiri. Saat bibi tahu bahwa mas Bima akan mengoperasi bola mata, bibi tahu bahwa itu hanya kebohongan, sebenarnya mas Bima tidak kenapa-napa!. Malam itu, bibi melihatnya berjalan menuju kamar neng Dian. Padahal seperti yang neng ketahui bahwa mas Bima itu buta..! Mas Bima telah menghianati kepercayaan dari neng Dian! Mas Bima bukan lelaki baik seperti yang neng pikirkan.”
“ Tidak bi! Saya tidak percaya! Sekarang bibi boleh pergi.., biarkan saya sendiri!”

Semua ucapan yang ku dengar dari bibi menghancurkan hatiku. Aku berdo’a semoga ucapan bibi hanya keliru. Bima yang ku puja-puja adalah kekasih terbaik yang ku miliki. Kepadanyalah ku persembahkan lautan cintaku.
                                                                        ***
Suatu saat Bima menengokku dirumah sakit. Dia membawakan aku sebuah parcel buah-buahan. Bima duduk disampingku menunggu aku terbangun. Sambil menungguku, dia menyiapkan irisan buah-buahan untuk ku makan. Terdengar beberapa kali ada panggilan masuk dari handphonenya. Menjawab telpon tersebut, terdengar suara perempuan yang bertanya keberadaan Bima. Bima pun menjawab dengan manis kalau ia sedang dirumah sakit menengok aku. Aku lalu terbangun.
“ Siapa tadi yang telepon Bim?” tanyaku.
“ Teman.”  Jawabnya singkat.“ Bagaimana keadaannya sekarang?” Bima mencoba mengalihkan pembicaraan.

Tiba-tiba hendphone Bima berdering lagi. Ia mengangkatnya. Terdengar suara perempuan memanggil ‘saying’ pada Bima.
Ia berkata “ Sayang cepat kemari aku terkilir kaki ku sakit. ”  
  Saying,kamu tidak apa-apakan ? Tunggu sebentar sayang  aku akan kesana. Tunggu ya…!”
Bima pun meninggalkan aku tanpa sepetah kata pun. Ia terdengar begitu khawatir pada gadis bernama Anah yang dicintainya. Aku sangat terluka.bi Siti lalu datang menenangkan aku.
“ Bi, tolong jangan katakan pada kedua orang tuaku, kalau Bima mempunyai perempuan lain. Aku mohon bi.. “

Sementara itu Bima mendatangi kediaman Anah. Ternyata Anah tidak terjatuh dari tangga. Itu hanya rekayasa agar Bima segera datang ketempatnya. Karena  Anah telah menyiapkan kejutan ulang tahun untuk Bima.

Bi Siti kemudian menceritakan  semua tentang kelicikan Bima. Dengan kedua bola mata yang buta ini aku mengasihani diriku sendiri. Aku merasa menjadi wanita terbodoh karena mencintai lelaki yang sebenarnya tidak benar-benar mencintai aku.

“Neng, sebenarnya mas Bima itu tidak pernah sakit mata atau pun sampai buta. Sebenarnya mas Bima hanya membodohi neng Dian agar neng Dian rela mendonorkan Mata eneng. Donor mata eneng sebenarnya untuk kekasih mas Bima, yaitu nona Anah. Sewaktu mas Bima dirawat dirumah sakit bersama eneng kala itu, memang  benar untuk melakukan proses operasi. Tapi operasi yang sebenarnya dilakukan yaitu juga operasi pengambilan bola mata mas Bima yang disebelah kiri.  Baik bola mata eneng maupun mas Bima,Itu semua untuk Anah..!.  Nona Anah saat itu mengalami kebutaan karena  sebuah tragedy. Mas Bima saat itu merasa bersalah karena mas Bimalah yang menyebabkan tragedy itu terjadi. Sebuah tabrakan. Jadi bertahun-tahun mas Bima membohongi eneng. Dia adalah manusia egois, dia tidak ingin rugi sedikitpun! Seharusnya Mas bima menerima balasan yag setimpal atas kelicikannya terhadap eneng!”
                                                            ***
Cinta. Aku tidak tahu bagaimana ia datang dalam kehidupanku. Memberikan janji-janji seindah taman langit. Memberikan madu dan sirup dari surga. Namun yang sebenarnya cinta telah memberiku segenap ketidakbaikan. Andai waktu bisa kembali,  aku tidak akan mencintai lelaki sebesar cinta yang kuberikan kepada Bima.kecewa tiada dua! Aku tidak akan mengulanginya lagi, ini hanya untuk satu kali. Ya Allah izinkan aku mencintaiMu lebih dari segalanya…amin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar