Kamis, 04 Februari 2016

ASUHAN KEBIDANAN POST PARTUM DENGAN PEB


MAKALAH
Tentang :
“ASUHAN KEBIDANAN PADA NY. A P1A0 POST PARTUM 6 JAM DENGAN PEB DI RSUD WALED KABUPATEN CIREBON TAHUN 2016”

                    DISUSUN OLEH :
                    Nama : Alya
                    Nim    : R.13.03.072

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKes) INDRAMAYU
Jalan Wirapati - Sindang - Indramayu (0234) 272020
TAHUN AKADEMIK 2015/2016





KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan karunia-Nya, kami dapat menyelesaikan makalah ”Asuhan Kebidanan pada Ny. A P1A0 Post Partum 6 jam dengan PEB di RSUD Waled Tahun 2016”  untuk mahasiswa Program Studi D-III Kebidanan.
          Makalah ini dimaksudkan sebagai tuntunan belajar bagi mahasiswa di insitusi pendidikan kesehatan khususnya bidang kebidanan. Semoga dengan adanya makalah ini bisa memberi banyak pengetahuan bagi pembaca khususnya bagi penulis sendiri.
          Kami menyadari keterbatasan dalam menyusun makalah ini. Untuk itu, kami mengharapkan kritik dan saran dari berbagai pihak.
          Akhir kata kami ucapkan terimakasih atas segala perhatian dan mohon maaf apabila ada kesalahan karena kesempurnaan hanya milik Allah SWT. 




                                                                                                           
                                                                                                                Penulis


                                                                                                Indramayu, 23 Januari  2016




DAFTAR ISI

                                                                                                           
KATA PENGANTAR .......................................................................................... i
DAFTAR ISI.......................................................................................................... ii           
BAB I      PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang........................................................................................ 1
B.       Identifikasi Masalah............................................................................... 4
C.       Tujuan .................................................................................................... 4
BAB II    TINJAUAN TEORI
A.      Definisi nifas........................................................................................... 3
B.       Periode masa nifas.................................................................................. 3
C.       Involusi alat kandungan …………………………………………......... 3
D.      Perawatan pasca persalinan………………………………………......... 6
E.       Konsep dasar PEB…………………………………………………......  8

BAB III   TINJAUAN KASUS
A.      Asuhan Kebidanan Post Partum ........................................................... 13

BAB IV   PENUTUP
A.      Kesimpulan............................................................................................ 18           
B.       Saran...................................................................................................... 18

DAFTAR PUSTAKA

  
BAB I
PENDAHULUAN


A.      Latar Belakang
Masa nifas adalah masa segera setelah kelahiran sampai  6 minggu. Selama masa ini , saluran reproduktif anatominya kembali ke keadaan tidak hamil yang normal (Obstetric William)
Dalam masa nifas terjadi perubahan-perubahan yang dialami ibu dan kita harus melakukan pemantauan yang tepat pada ibu dan bayi. Apakah perubahan-perubahan yang terjadi termasuk fisiologis atau partologis, sehingga dapat mengambil langkah-langkah yang tepat dan sesuai untuk memberikan asuhan kebidanan.
Adapun yang harus diperiksa pada ibu nifas ialah: keadaan umum, keadaan payudara dan putingnya, dinding perut, keadaan perineum, kandung kencing, rektum, flour albus. Keadaan serviks, uterus dan adrexa. Adanya erosi, radang atau kelainan-kelainan. Pre-eklampsia adalah penyakit dengan tanda-tanda hipertensi, edema dan protein uria yang timbul karena kehamilan.Tidak jarang walaupun pada kehamilan normal bisa saja terkena pre-eklampsia.Pre-eklampsia bisa saja berlangsung pada saat persalinan.Untuk itu dalam penanganannya harus lebih hati-hati dan teliti. (Sarwono 2009)
       
B.     Identifikasi  Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka penulis merumuskan masalah sebagai berikut : “Bagaimana memberikan  Asuhan Kebidanan pada  Ny. A Di RSUD Waled Kabupaten Cirebon tahun 2015?”

C.      Tujuan  
1.        Tujuan Umum
Mampu melaksanakan asuhan kebidanan post partum dengan PEB  sesuai standar asuhan kebidanan dengan pendekatan manajemen kebidanan dan didokumentasikan dengan metode Subjektif, Objektif, Analisa dan penatalaksanaan (SOAP).
2.        Tujuan Khusus
a.         Pengkajian data : Mengkaji data  Ny. A mulai dari :
1)        Tanda-tanda vital.
2)        Pemeriksaan fisik.
3)        Pemeriksaan penunjang
b.        Interpretasi data dasar berdasarkan diagnosa  Ny. A
c.         Mengidentifikasi diagnosa atau masalah potensial dan mengantisipasi penanganannya.
d.        Menetapkan kebutuhan terhadap tindakan segera, untuk melakukan konsultasi, kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain berdasarkkan klien.
e.         Menyusun rencana asuhan pada asfiksia sedang.
f.         Pelaksanaan langsung asuhan efisien dan aman.
g.        Melakkukan evaluasi manajemen kebidanan pada bayi baru lahir dengan asfiksia sedang.

 
BAB II
TINJAUAN TEORI


A.    Pengertian Nifas
Masa nifas (peurperium) adalah pulihnya kembali mulai dari partus atau persalinan selesai sampai alat – alat kandungan kembali seperti sebelum hamil, lamanya 6 – 8 minggu (Sinopsis Obstetri).
Masa nifas adalah masa segera setelah kelahiran sampai 6 minggu. Selama masa ini , saluran reproduktif anatominya kembali ke keadaan tidak hamil yang normal. (Obstetri William).
B.  Periode Masa Nifas
1.         Puerperium dini : Yaitu kepulihan dimana ibu telah diperbolehkan berdiri dan berjalan – jalan
2.          Puerperium intermedial : Yaitu Kepulihan menyeluruh alat–alat genetalia yang lamanya 6–8 minggu
3.         Remote Puerperium : Yaitu waktu yang diperlukan untuk putih dan sehat sempurna terutama bila selama hamil atau waktu persalinan mempunyai komplikasi. (Sinopsis Obstetri)
            C.  Inovasi Alat-Alat Kandungan
1.      Uterus : Secara berangsur-angsur menjadi kecil (involusi) sehingga akhirnya kembali seperti sebelum hamil. TFU dan berat uterus menurut masa involusi
Involusi
TFU
Berat uterus
Bayi lahir
Uri lahir
1 minggu
2 minggu
6 minggu
8 minggu
Setinggi pusat
2 jari bawah pusat
Pertengahan pusat symphisis
Tidak beruba diatas symphisis
Bertambah kecil
Sebesar normal
1000 gram
750 gram
500 gram
350 gram
50 gram
30 gram

2.      Bekas Implantasi Uri : Placenta bed mengecil karena kontraksi dan menonjol ke kovum uteri dengan diameter 7,5 cm. sesudah 2 minggu menjadi 3,5 cm pada minggu keenam 2,4 cm dan akhirnya pulih.
3.       Perubahan pembuluh darah : Pembuluh darah yang besar menjadi mengecil dalam nifas karena setelah persalinan sudah tidak dibutuhkan lagi peredaran darah yang banyak.
4.      Perubahan pada cervix dan vagina : Beberapa hari setelah persalinan ostium externum dapat dilalui oleh 2 jari pinggir” tidak rata tapi retak-retak karena robekan dalam persalinan. Vagina yang sangat di regang waktu persalinan lambat laun mencapai ukuran yang normal. Pada minggu ke-3 post partum rugae mulai nampak kembali.
5.      Dinding perut dan peritoneum : Setelah persalinan dinding perut longgar karena diregang begitu lama, tetapi biasanya pulih kembali dalam 6 minggu
6.    Saluran kencing : Dinding kandung kencing memperlihatkan oedema dan hyperaemia. kadang-kadang oedema dari trgonum, menimbulkan obstruksi dari urethra sehingga terjadi retensia urine kandung kencing dalam puerperium kurang sensitif dan kapasitasnya bertambah sehingga kandung kencing penuh atau sesudah masih tinggal urine residual. Sisa urine ini memudahkan terjadinya infeksi. Dilatasi akan normal kembali dalam waktu 2 mingu.
7.     Laktasi : Keadaan buah dada pada 2 hari sama dengan keadaan dalam kehamilan. Pada waktu ini buah dada belum mengandung suatu. Melainkan colostrum, yaitu cara yang berwarna kuning.
8.         Luka-luka : Pada jalan lahir bila tidak disertai infeksi akan sembuh dalam 6-7 hari
9.         Rasa sakit : Yang disebut after pains (merica atau mules) disebabkan kontraksi rahim, biasanya berlangsung 2-4 hari pasca persalinan. Bila terlalu mengganggu dapat diberikan obat-obat anti sakit dan anti mules.
10.     Lochea : Adalah cairan secret yang berasal dari lovum uteri dan vagina dalam masa nifas
  a.    Lochea Rubra (cruenta) : Berisi darah segar dan sisa-sisa selaput ketuban, sel-sel desidua, vernik, caseosa lanugo dan meconium selama 2 hari pasca persalinan.
 b.    Lochea Sanguinolenta : Berwarna merah kuning berisi darah dan lendir, hari ke     3-7 pasca persalinan
 c.       Lochea serosa : Berwarna kuning, cairan tidak berdarah lagi,
 d.      Lochea alba : Cairan putih, setelah 2 minggu
e.       Lochea Purulenta : Terjadi infeksi, keluar cairan seperti nanah berbau busuk  
f.       Lochiostosis : Lochea tidak lancar keluarnya
11. Serviks : Setelah persalinan, bentuk servik agak mengaga. Konsistensinya lunak, kadang-kadang terdapat perlukaan “kecil, setelah bayi lahir, tangan masih bisa masuk rongga rahim, setelah 2 jam dapat dilalui untuk 2-3 jari dan setelah 7 hari hanya dapat dilalui 1 jari
12.    Ligamen-ligamen : Ligament-ligamen dan diafragma pelvis yang meregang pada waktu persalinan, setelah bayi lahir, secara berangsur-angsur menjadi ciut dan pulih kembali sehingga tidak jarang uterus jatuh kebelakang dan menjadi retrofleksi karena ligamentum ratundum menjadi kendor. (Sinopsis Obstetri,1998:116)
D.    Perawatan Pasca Persalinan
1.       Mobilisasi dini (early mobilization) : Ibu nifas sudah diperbolehkan bangun dari tempat tidur 24-48 jam PP boleh segera miring ke kanan dan ke kiri setelah 2 jam melahirkan hari ke 2 duduk, ke 3 jalan-jalan. Keuntungan dari mobilisasi.
a.    Melancarkan pengeluaran lochea. Mengurangi infeksi puerperium
b.    Mempercepat involusi alat kandungan
c.    Melancarkan fungsi alat gastrointestinal dan alat perkemihan
d.   Meningkatkan kelancaran peredaran darah, sehingga mempercepat fungsi Asi dan pengeluaran sisa metabolisme.
2.        Rawat gabung : Perawatan ibu dan bayi dalam satu ruangan bersama-sama sehingga ibu bisa lebih banyak memperhatikan bayinya, segera dapat memberikan Asi sehingga kelancaran pengeluaran Asi lebih terjamin.
3.        Pemeriksaan Umum :  Kesadaran penderita ,  Keluhan yang terjadi setelah persalinan
4.        Pemeriksaan Khusus
a.       Fisik : tekanan darah, nadi dan suhu
b.      Fundus uteri : TFU, kontraksi uterus
c.       Payudara : putting susu, pembengkakan atau stowing ASI pengeluaran ASI
d.      Pertun lochea : lochea rubra, lochea sanguilenta
e.     Luka jahitan apisiotomi : apakah baik atau terbuka, apakah ada tanda – tanda infeksi (kolor, dolor, fungsiolesa dan pernanahan)
5.      Pemulangan parturien dan pengawasan ikatan: Parturien dengan persalinan berjalan lancar dan spontan dapat dipulangkan setelah mencapai keadaan baik dan tidak ada keluhan. Parturien dipulangkan setelah 2-3 hari dirawat.
Nasehat yang perlu diberikan saat pemulangan:
a.    Diet: makanan harus bermutu, bergizi, dan cukup kalori
b.   Miksi: hendak-hendak dapat dilakukan sendiri secepatnya. Bila kandun g   kemih penuh dan wanita sulit kencing, sebaiknya dilakukan kateterisasi
c.    Defekasi: buang air harus dilakukan 3-4 hari pasca persalinan
d.   Perawatan payudara: dimulai sejak hamil supaya putting susu lemas, tidak keras dan kering sebagai perscapan menyusui bayinya.
e.   Laktasi: bila bayi mulai disusui, isapan putting susu merupakan rangsangan psikis yang secara reflektoris mengakibatkan oksitosin dikeluarkan oleh hipofise produksi Asi akan > banyak.
g.   Kebersihan diri
h.   Istirahat
i.     Latihan
Nasihat untuk ibu postnatal:
a. Fisioterapi postnatal sangat baik bila diberikan
b.    Sebaiknya bayi disusui
c. Kerjakan gymnastic sehabis bersalin
d.   Untuk kesehatan ibu, bayi dan keluarga sebaiknya melakukan kb.
e. Bawalah bayi anda untuk memperoleh imunisasi
E.     Konsep Dasar Pre Eklamsi Berat
1.      Definisi
Preeklampsia adalah sekumpulan gejala yang timbul pada wanita hamil, bersalin dan nifas yang terdiri dari hipertensi, edema dan proteinuria tetapi tidak menjukkan tanda-tanda kelainan vaskuler atau hipertensi sebelumnya, sedangkan gejalanya biasanya muncul setelah kehamilan berumur 28 minggu atau lebih ( Rustam Muctar, 1998 ).
Preeklampsia adalah penyakit dengan tanda-tanda hipertensi, edema, dan proteinuria yang timbul karena kehamilan. (Ilmu Kebidanan : 2005).
Preeklampsi berat adalah suatu komplikasi kehamilan yang ditandai dengan timbulnya hipertensi 160/110 mmHg atau lebih disertaiproteinuria dan atau disertai udema pada kehamilan 20 minggu atau lebih (Asuhan Patologi Kebidanan : 20011).
2.   Dasar Diagnosis Pre Eklamsia
Diagnosis ditegakkan berdasarkan kriteria preeklamsia berat sebagaimana tercantum dibawah ini. Preeklamsia digolongkan preeklamsia berat bila ditemukan satu atau lebih gejala sebagai berikut:
Tekanan darah sistolik ≥ 160 mmHg dan tekanan darah diastolik ≥ 110 mmHg. Tekanan darah ini tidak menurun meskipun ibu hamil sudah dirawat dirumah sakit dan sudah menjalani tirah baring. Proteinuria lebih 5g/24 jam atau 4 + dalam pemeriksaan kualitatif,      Oliguria, yaitu produksi urin kurang dari 500cc/24 jam, Kenaikan kadar kreatinin plasma. Gangguan visus dan serebral,  Nyeri epigastrum atau nyeri pada kuadaran kanan atas abdomen, Edema paru-paru dan sianosis,       Hemolisis mikroangiopatik, trombositopenia berat: < 100.000 sel/mm³ atau penurunan trombosit dengan cepat,   Gangguan fungsi hepar ( kerusakan hepatoselular ): peningkatan kadar alanin dan aspartate aminotransferase,   Pertumbuhan janin intrauterin  yang terhambat,     Sindrom HELLP.  ( Ilmu Kebidanan, 2009:544-545)
3.      Etiologi
Etiologi penyakit ini sampai saat ini belum diketahui dengan pasti. Banyak teori – teori dikemukakan oleh para ahli yang mencoba menerangkan penyebabnya. Oleh karena itu disebut “penyakit teori” namun belum ada memberikan jawaban yang memuaskan. Tetapi terdapat suatu kelainan yang menyertai penyakit ini yaitu :  Spasmus, Arteriola,  Retensi Na dan air,  Koagulasi intravaskuler. Walaupun vasospasme mungkin bukan merupakan sebab primer penyakit ini, akan tetapi vasospasme ini yang menimbulkan berbagai gejala yang menyertai eklampsia (Obstetri Patologi : 1984)
Teori yang dewasa ini banyak dikemukakan sebagai sebab preeklampsia ialah iskemia plasenta. Akan tetapi, dengan teori ini tidak dapat diterangkan semua hal yang bertalian dengan penyakit itu. Rupanya tidak hanya satu faktor, melainkan banyak faktor yang menyebabkan preeklampsia dan eklampsia. Diantara faktor-faktor yang ditemukan sering kali sukar ditemukan mana yang sebab mana yang akibat. (Ilmu Kebidanan : 2005).
4.      Patofisologi
Pada pre eklampsia terjadi spasme pembuluh darah disertai dengan retensi garam dan air. Pada biopsi ginjal ditemukan spasme hebat arteriola glomerulus. Pada beberapa kasus, lumen arteriola sedemikian sempitnya sehingga hanya dapat dilakui oleh satu sel darah merah. Jadi jika semua arteriola dalam tubuh mengalami spasme, maka tenanan darah akan naik sebagai usaha untuk mengatasi tekanan perifer agar oksigenasi jaringan dapat dicukupi. Sedangkan kenaikan berat badan dan edema yang disebabkan oleh penimbunan air yang berlebihan dalam ruangan interstitial belum diketahui sebabnya, mungkin karena retensi air dan garam. Proteinuria dapat disebabkan oleh spasme arteriola sehingga terjadi perubahan pada glomerulus (Sinopsis Obstetri, Jilid I, Halaman 199).
Pada preeklampsia yang berat dan eklampsia dapat terjadi perburukan patologis pada sejumlah organ dan sistem yang kemungkinan diakibatkan oleh vasospasme dan iskemia (Cunniangham,2003).
Wanita dengan hipertensi pada kehamilan dapat mengalami peningkatan respon terhadap berbagai substansi endogen (seperti prostaglandin,tromboxan) yang dapat menyebabkan vasospasme dan agregasi platelet.  Penumpukan trombus dan perdarahan dapat mempengaruhi sistem saraf pusat yang ditandai dengan sakit kepala dan defisit syaraf lokal dan kejang. Nekrosis ginjal dapat menyebabkan penurunan laju filtrasi glomelurus dan proteinuria. Kerusakan hepar dari nekrosis hepatoseluler menyebabkan nyeri epigastrium dan peningkatan tes fungsi hati. Manifestasi terhadap kardiovaskuler meliputi penurunan volume intavaskuler, meningkatnya kardiakoutput dan peningkatan tahanan pembuluh perifer. Peningkatan hemolisis microangiopati menyebabkan anemia dan trobositopeni. Infark plasenta dan obstruksi plasenta menyebabkan pertumbuhan janin terhambat bahkan kematian janin dalam rahim (Michael,2005).
5.      Tanda dan gejala pre eklamsia berat :
Pre eklamsia disebut berat, kalau : Tekanan darah ibu / 110 mmHg, Oligovria, kurang dari 400 cc/24 jam, Protenuma lebih dark 3 gelas/liter.   Keluhan subyektif, Nyeri epigastrum, gangguan penglihatan,  Nyeri kepala, Edema paru dan sianosis, gangguan kesadaran,  Manifestasi Klinis,
6. Diagnosis
Preeklamsia ditegakkan berdasarkan adanya dari tiga gejala, yaitu:  Edema,  Hipertensi,  Proteinuria, Berat badan yang berlebihan bila terjadi kenaikan 1 kg seminggu beberapa kali. Edema terlihat sebagai peningkatan berat badan, pembengkakan kaki, jari tangan dan muka. Tekanan darah ≥ 140/90 mmHg atau tekanan sistolik meningkat > 30 mmHg atau tekanan diastolik > 15 mmHg yang diukur setelah pasien beristirahat selama 30 menit. Tekanan diastolik pada trimester kedua yang lebih dari 85 mmHg patut dicurigai sebagai bakat preeklamsia. Proteiuria bila terdapat protein sebanyak 0,3 g/l dalam air kencing 24 jam atau pemeriksaan kualitatif menunjukkan +1 atau 2; atau kadar protein ≥ 1 g/l dalam urin yang dikeluarkan dengan kateter atau urin porsi tengah, diambil minimal 2 kali dengan jarak waktu 6 jam.
7.  Pencegahan
Pemeriksaan antenatal yang teratur dan teliti dapat menemukan tanda-tanda dini preeklampsia, dan dalam hal itu harus dilakukan penanganan semestinya. Kita perlu lebih waspada akan timbulnya preeklampsia dengan adanya faktor-faktor predisposisi seperti yang telah diuraikan di atas. Walaupun timbulnya preeklamsia tidak dapat dicegah sepenuhnya, namun frekuensinya dapat dikurangi dengan pemberian penerangan secukupnya dan pelaksanaan pengawasannya yang baik pada wanita hamil.
Penerangan tentang manfaat istirahat dan diet berguna dalam pencegahan. Istirahat tidak selalu berarti berbaring di tempat tidur, namun pekerjaan sehari-hari perlu dikurangi, dan dianjurkan lebih banyak duduk dan berbaring. Diet tinggi protein dan rendah lemak, karbohidrat, garam dan penambahan berat badan yang tidak berlebihan perlu dianjurkan. Mengenal secara dini preeklampsia dan segera merawat penderita tanpa memberikan diuretika dan obat antihipertensif, memang merupakan kemajuan yang penting dari pemeriksaan antenatal yang baik. 
            8.      Pemeriksaan penunjang
a.         Pemeriksaan spesimen urine mid-stream untuk menyingkirkan kemungkinan infeksi urin.
b.        Pemeriksaan darah, khususnya untuk mengetahui kadar ureum darah (untuk menilai kerusakan pada ginjal) dan kadar hemoglobin.
c.         Pemeriksaan retina, untuk mendeteksi perubahan pada pembuluh darah retina.
d.        Pemeriksaan kadar human laktogen plasenta (HPL) dan esteriol di dalam plasma serta urin untuk menilai faal unit fetoplasenta (Helen Farier : 1999)Elektrokardiogram dan foto dada menunjukkan pembesaran ventrikel dan kardiomegali. 
9.       Penatalaksanaan
 a.       Bila tidak tersedia antihipertensi parenteral dapat diberikan tablet antihipertensi secara sublingiual diulang selang 1 jam, maksimal 4-5 kali. Bersama dengan awal pemberian secara oral.
b.       Konsul bagian penyakit dalam / jantung atau mata
c.  Obat-obat antipiretik diberikan bila suhu rectal lebih 38,5 derajat celcius dapat dibantu dengan pemberian kompres dingin atau alkohol atau xylomidon 2 cc IM.
d.       Antibiotik diberikan atas indikasi (4) diberikan ampicilin 1 gr/6 jam /IV/hari
e.        Dosis awal sekitar 4 gram MgSO4 IV (20% dalam 20 cc) selama 1 gr/menit kemasan 20% dalam 25 cc laruitan MgSO4 (dalam 3-5 menit). Diikuti segera 4 gr dibokong kiri dan 4 gram dibokong kanan (40 % dalam 10 cc) dengan jaruim no 21 panjang 3,7 cm. Untuk mengurangi nyeri dapat diberikan 1 cc xylocain 2 % yang tidak mengandung adrenalin pada suntikan IM.
f.       Dosis ulangan : diberikan 4 gram intramuskuler 40% setelah 6 jam pemberian dosis awal lalu dosis ulangan diberikan 4 gram IM setiap 6 jam dimana pemberian MgSO4 tidak melebihi 2-3 hari.
g.      Syarat –syarat pemberian MgSO4:   Tersedia antidotum MgSO4 yaitu calcium gluconas 10% 1 gram (10% dalam 10 cc) diberikan intravenous dalam 3 menit,   Reflek patella positif kuat, Frekuensi pernafasan lebih 16 kali per menit,     Produksi urin lebih 100 cc dalam 4 jam sebelumnya (0,5 cc/kgBb/jam).
h.      MgSO4 dihentikan bila : ada tanda-tanda keracunan yaitu kelemahan otot, hipotensi, refleks fisiologis menurun, fungsi jantung terganggu, depresi SSP, kelumpuhan dan selanjutnya dapat menyebabkan kematian karena kelumpuhan otot-otot pernafasan karena ada serum 10 U magnesium pada dosis adekuat adalah 4-7 mEq/liter. Refleks fisiologis menghilang pada kadar 8-10 mEq/liter. Kadar 12-15 mEq terjadi kelumpuhan otot-otot pernafasan dan lebih 15 mEq /liter terjadi kematian jantung, bila timbul tanda-tanda keracunan magnesium sulfat,  Hentikan pemberian magnesium sulfat, berikan calcium gluconase 10% 1 gram (10% dalam 10 cc) secatra iv dalam waktu 3 menit, berikan oksigen, lakukan pernafasan buatan

BAB III
TINJAUAN KASUS

A.    Asuhan Kebidanan Post Partum 6 jam

Tanggal Pengkajian    :    23 Januari 2016
Jam                             :    10.05  WIB
No Rekam Medik       :    78768x
Nama Pengkaji           :    Alya
Tempat Pengkajian     :    RSUD Waled
1.      Data Subjektif
Nama Pasien      :  Ny. A
Umur                 :   23 th
Agama               :  Islam
Suku/Bangsa      :  Jawa/Indonesia
Pendidikan        :  SMP
Pekerjaan           :  Tidak bekerja
Nama Pasien      :  Tn.D
Umur                 :   23 th
Agama               :  Islam
Suku/Bangsa      :  Jawa/Indonesia
Pendidikan        :  SMP
Pekerjaan           :  Wiraswasta

Alamat               :   Desa Waruwijaya Rt/Rw 01/03 Kecamatan
                               Depok Kabupaten Cirebon.
a.      Keluhan utama
Ibu mengatakan masih lemas.
b.        Riwayat Kesehatan
Ibu mengatakan  menderita penyakit hipertensi  dan tidak  menderita penyakit menular seperti: hepatitis, TBC, HIV/AIDS, Sifilis. Tidak mempunyai  penyakit menahun seperti  malaria dan  penyakit menurun seperti diabetes.
c.       Riwayat Kehamilan, Persalinan dan Nifas yang lalu
Ibu mengatakan ini kehamilan yang pertama. HPHT  17-04-2015, TP 24-01-2015. Gerakan janin dirasakan pada usia kehamilan 18 minggu. Ibu sudah pernah memeriksakan kehamilannya sebanyak 7 kali yaitu 5 kali di Puskesmas dan 2 kali di BPM. Ibu mengatakan tidak pernah mengkonsumsi obat warung  atau jamu-jamuan kecuali obat yang diberikan oleh bidan dan doker.
Ibu mengatakan tidak pernah keguguran, anak pertama berjenis kelamin perempuan BB 2950 gram, PB 48, lahir spontan ditolong oleh bidan di RSUD Waled.
d. Riwayat Sosial ekonomi
Ibu mengatakan ini merupakan pernikahan yang pertama, status menikah sah, pertama kali menikah pada usia 22 tahun, lama menikah 11 bulan. hubungan antara suami dan istri harmonis, hubungan dengan keluarga dan lingkungan baik, keluarga dan suami mendukung. Ibu belum pernah menggunakan kontrasepsi. Pola makan 3 kali per hari dengan porsi sedang, lauk-pauk seperti ikan, tempe, tahu dan sayur-mayur. Pola eliminasi BAB 1 kali sehari, BAB terakhir jam 07.00 WIB. BAK 6 kai sehari, BAK terakhir jam 08.00. Pola istirahat tidur malam 9 jam dan tidur siang 1 jam. Pekerjaaan sehari-hari dibantu oleh suami.
2.      Data Objektif
a.         Pemeriksaan Umum
1)        Keadaan Umum    :    Baik
2)        Kesadaran              :  Composmetis   
3)        Tanda-tanda Vital :  Tekanan darah : 160/100 mmHg
                                         Pulse                : 85x/menit
                                         Suhu                : 36,80 C
                                        Respirasi          : 25 x/Menit
b.  Pemeriksaan Payudara : payudara tampak bersih, putting menonjol, tidak ada pembengkakan, sudah ada pengeluaran ASI.
c.       Pemeriksaan abdomen :
1)      TFU : 2 jari bawah pusat
2)      Kontraksi : keras
3)      Kandung kemih : terpasang kateter, cairan 100 cc
4)      Terdapat luka laserasi derajat 2 dan sudah dijahit.
d.      Pemeriksaan genitalia.
Tidak ada oadema, tidak ada varises, tidak ada tanda-tanda infeksi, loea rubra warna merah.
e.       Ekstremitas atas dan bawah
Terdapat oadema pada ekstremitas bawah kanan dan kiri, tidak ada oadema pada ekstremitas atas kanan dan kiri, tidak ada varises pada ekstremitas atas dan bawah.
f.          Pemeriksaan Laboratorium
1)      Golongan darah : A
2)      Protein urine +
3)      HB : 12,5 gr
4)      Leukosit : 6,5/mm3
5)      Eritrosit : 4,42/mm3
6)      Hematrokrit : 32
7)      Trombosit : 150/mm2
                            
3.      Analisa
P1A0 post partum 6 jam dengan PEB keadaan ibu baik.
4. Penatalaksanaan
a.         Memberitahu hasil pemeriksaan
            Ibu dan keluarga sudah mengetahui hasil pemeriksaan
b.        Memfasilitasi informed consent
         Keluarga menyetujui tindakan yang akan dilakukan.
c.       Menganjurkan ibu untuk tidak melakukan pantangan terhadap makanan apapun.
           ibu mengerti.
d.        Membimbing ibu untuk miring kanan dan kiri.
→ ibu dapat melakukannya.
            e.         Menganjurkan pada ibu untuk menjaga vulva hygiene.
Ibu mengerti.
f.         Mengobservasi tanda-tanda vital
TD 160/100 mmHg, Pulse: 80x/menit, Respirasi : 24x/menit suhu: 36,60 C. DJB : 120x/menit, R: 60x/menit, S: 37,10 C 
g.        Mengganti infuse D5 dengan Rl berisi MgSo4 yang kedua.
→ terpasang infuse RL..
h.        Mendokumentasikan hasil asuhan

 BAB V
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Masa nifas adalah masa pulih kembali, mulai dari persalinan selesai sampai alat-alat kandungan kembali seperti sebelum hamil. Lamanya masa nifas 6-8 minggu. (Sinopsis Obstetric )
Preeklampsia adalah sekumpulan gejala yang timbul pada wanita hamil, bersalin dan nifas yang terdiri dari hipertensi, edema dan proteinuria tetapi tidak menjukkan tanda-tanda kelainan vaskuler atau hipertensi sebelumnya, sedangkan gejalanya biasanya muncul setelah kehamilan berumur 28 minggu atau lebih         ( Rustam Muctar, 1998 ).

B.     Saran
1.      Bagi Institusi pendidikan
Dapat dijadikan sebagai bahan evaluasi  dan penilaian terhadap  mahasiswa dalam menerapkan  teori asuhan kebidanan yang telah didapat dibangku kuliah ke tatanan nyata dilapangan, kemudian sebagai bahan evaluasi efektifitas terhadap pengajaran yang telah diberikan kepada mahasiswa.
2.      Bagi institusi pelayanan kesehatan

 
Diharapkan instansi pelayanan kesehatan dapat lebih meningkatkan  dan mempertahankan mutu pelayanan kesehatan  terutama pelayanan kebidanan  dengan melakukan asuhan sesuai  standar pelayanan kebidanan dan memaksimalkan  pelaksanaan program  sesuai dengan strategi  yang telah dirancang. Sehingga dapat menurunkan angka kejadian morbiditas dan mortalitas ibu, bayi  serta mampu meningatkan  derat kesehatan masyarakat.

 
DAFTAR PUSTAKA
Alimul, Aziz. Pengantar ilmu kesehatan anak untuk pendidikan kebidanan_google books.

Indrayani. 2013 Asuhan Persalinan dan Bayi Baru Lahir.Jakarta: CV.TRANS INFO MEDIA.

Prawiroharjo,Sarwono.2010. Ilmu Kebidanan. Jakarta: PT Bina Pustaka.

Sujiyatini dkk. 2011. Asuhan Patologi Kebidanan. Nuha Medika : Jogjakarta
Obstetri Patologi. 1984. Elstar Offset : Bandung.
Mochtar, Rustam.1998.Sinopsis obstetri fisiologi, obstetri patologi.EGC: Jakarta










Tidak ada komentar:

Posting Komentar