Kamis, 05 Februari 2015

PENYAKIT DIABETES MELITUS PADA KEHAMILAN



1.      Definisi
Diabetes melitus adalah penyakit kelainan metabolisme dimana tubuh penderita tidak bisa secara otomatis mengendalikan  tingkat gula (glukosa) dalam darahnya. Penderita diabetes mellitus (DM) tidak bisa memproduksi insulin dalam jumlah yang cukup sehingga terjadi kelebihan gula dalam tubuhnya.
Kekurangan insulin diakibatkan adanya kerusakan sebagian kecil atau besar sel-sel beta pulau lengerhans alam kelenjar pankreas yang menghasilkan insulin. Dalam kehamilan terjadi perubahan metabolism endokrin dan karbohidrat untuk  makanan janin dan persiapan menyusui bila tidak mampu meningkatkan produksi insulin  (hypoinsulin) yang mengakibatkan hyperglikemia atau DM pada kehamilan (DM yang timbul dalam masa kehamilan). Penyebab genetic atau faktor keturunan, virus dan bakteri atau bahan toksik atau beracun, nutrisi. (Ai Yeyeh Rukiyah, Asuhan Kebidanan 4. Hal 107 )
2.      Gejala Umum
Sering kencing pada malam hari (polyuria); selalu merasa haus (polidipsia); selalu merasa lapar (polyfagia); selalu merasa lelah/ kekurangan energy; infeksi dikulit; penglihatan menjadi kabur; Hyperglasimia (peningkatan abnormal kandungan gula dalam darah); glaikosuria (glukosa dalam urin). (Ai Yeyeh Rukiyah, Asuhan Kebidanan 4. Hal 107 )
3.      Kasifikasi
Diabetes meelitus yang tergantung pada insulin (Id DM atau jenis i): biasanya terdapat pada orang yang masih muda, gejala-gejalanya terjadi secara tiba-tiba, kadar glukosa dalam darah tinggi.
Diabetes mellitus yang tidak tergantung pada insulin (NID DM atau jenis II): biasanya terdapat pada orang yang berusia >40 tahun, terjadi secara perlahan-lahan, dan kemungkinannya tiada tanda/ gejala, biasanya tejadi pada orang gemuk, usia lanjut dan tidak aktif. (Ai Yeyeh Rukiyah, Asuhan Kebidanan 4. Hal 107 ).
4.      Pengaruh Kehamilan
Hyperemesis gravidarum, pemakaian glikogen bertambah, pertumbuhan janin, pankreas dan adrenalin in otero sudah  berfungsi, meningkatnya metabolisme basal, sebagian insulin ibu dimusnahkan oleh enzim uninsulin dalam plasenta. Insulin dalam kehamilan dikurangi oleh plasenta laktogen dan mungkin juga oleh esterogen dan progesterone. (Ai Yeyeh Rukiyah, Asuhan Kebidanan 4. Hal 108 ).
Pengaruh ini bergantung apakah diabetes terbengkalai atau diobati dengan baik. Namun, walaupun diobati dengan baik diabetes tetap meninggalkan kematian perinatal. Pengaruh tersebut adalah :
1)      Kemungkinan gestosis 4X lebih besar
2)      Infeksi lebih mudah terjadi, terutama pielitis dan pielonefritis.
3)      Kemungkinan abortus dan peralinan kurang bulan sedikit lebih besar
4)      Bayi sering besr diduga penyebabnya ialah hormone pertumbuhan yang berlehihan atau factor genetis. Walaupun anaknya besar, secara fungsional lebih bersifat sebagai anak lahir kurang bulan sehingga dipergunakan istilah foetus dysmaturus. Bayi-bayi ini harus dirawat sebagaianak lahir kurang bulan
5)      Anak sering mati intrauterine, terutama sesudah minggu ke 35 kematian ini diduga disebabkan oleh hipoglikemi.
6)      Setelah lahir, anak sering mengalami hipoglikemia dan hipoksi.
7)      Hidramnion sering terjadi ; jika timbul hidramnion, kematian intrauterine meningkat sampai 35%.
8)      Kelainan konginetal lebih sering dijumpai.
9)      Perdarahan pasca persalinan lebih besar kemungkinannnya.
10)  Laktasi kadaang-kadang kurang.
(Obstetri Patologi, Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran. Hal 116)
5.      Pengaruh Persalinan
Kegiatan otot rahim dan usaha meneran, mengakibatkan pemakaian glukosa lebih banyak, sehingga dapat terjadi hypoglikemia, apabila disertai dengan muntah-muntah. (Ai Yeyeh Rukiyah, Asuhan Kebidanan 4. Hal 108 )
6.      Pengaruh Nifas
Laktasi menyebabkan keluarnya zat-zat makanan , termasuk hydrat arang dari tubuh ibu, DM sering mengakibatkan infeksi nifas dan sepsis dan menghambat luka jalan lahir, baik  ruptur perinea  maupun luka episiotomy. (Ai Yeyeh Rukiyah, Asuhan Kebidanan 4. Hal 108 )
 7.      Komplikasi dalam kehamilan
Abortus dan partus prematur, preeklamsia, hidramnion, kelainan letak janin karena bayi besar, insufiensi plasenta.
8.      Penyulit dalam persalinan
Inersia uteri dan atonia uteri, distosia bahu karena anak besar, kelahiran mati, lebih sering kelahiran partus dengan tindakan termasuk section sesaria, lebih mudah trjadi infeksi, kematiam maternal lebih tinggi.
9.      Mencegah dan Menghambat timbulnya komplikasi-komplikasi
Menjaga agar kadar glukosa dalam darah tetap normal, tidak merokok, berolahraga secara teratur, makan  makanan yang seimbang, kadar lemak yang rendah, dan kadar serat yang tinggi (komplek karbohidrat), agar tekanan darah dan kadar kolesterol diperikasa secara tteratur oleh dokter.
Penanganan yang dilakukan: diet berat badan rata-rata pada ibu hamil adalah 1200-1800 kalori/hari, terutama trimester 1, insulin dikurangi karena emesis menyebabkan hypoglikemik, trimester II dan III, insulin ditambah karena makan mulai bertambah, persalinan dan nifas, insulin dikurangi—karena cadangan hidrat arang berkurang, anjurkan infuse glukosa dan insulin.  (Ai Yeyeh Rukiyah, Asuhan Kebidanan 4. Hal 107 )
10.  Criteria Diabetes Melitus Menurut WHO
GLUKOSA PLASMA VENA

Puasa
2 jam
Normal
<100
<140
Diabetes Melitus
>140
>200
TGT
100-139
140-199
(Obstetri Patologi, Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran. Hal 116)
11.  Pengobatan
Kerja sama dengan spesialis penyakit dalam merupakan syarat mutlak untuk keselamatan ibu dan anak. Untuk mencegah embriopati, kerja sama ini sudah harus dimulai pada hamil muda bahkan sebaiknya sebelum kehamilan.
      Tujuan terpenting ialah pengawasan  dan pengendalian diabetes. Disamping itu hrrus diperikasa keadaan pembuluh darah (pemeriksaan fundus okuli) dan faal ginjal. Penting juga pengawasa paru karena pada diabetes lebih mudah terjadi aktivasi dari penyakit paru (TBC).
1)      Segera setelah diagnosis dibuat, pasien dimasukan rumah sakit untuk penilaian dan menentukan pengobatannya. Kemudaian dilakukan pengawasan, pada kehamilan yang masih muda dua minggu sekali pada kehamilan tua setiap minggu. Pengawasan meliputi pemeriksaan laboratorium, penentuan diet, dan penyesuaian dosis insulin.
2)      Pada bulan ke-7, sebaiknya pasien dirrawat inap lagi untuk beberapa hari karena saat ini sering terjadi perubahan toleransi. Tentu pasien juga dirawat inap setiap waktu jika ada penyulit  seperti asetonuri, gestosis, dan infeksi.
3)      Pada kehamilan 34 minggu, pasien dirawat lagi dirumah sakit untuk  persiapan persalinan.
Persalinan anjuran sebelum saat persalinan yang  diperhitungkan, perlu dipertimbangkan mengingat kemungkinan kematian anak menjelang akhir kehamilan. Pemeriksaan ultrasonografi dan kardiotografi dilakukan serial setiap minggu.
Amniosentesis dilakukan  untuk mengetahui kematangan paru. Persalinan anjuran dilaksanakan  bila ditemukan pertumbuhan janin terhambat (PJT), gawat janin, dan makrosomi. Bila perlu, diberikan steroid untuk pematangan paru. Pada janin yang sehat diharapkan persalinan normal pada kehamilan 40 minggu.
Beberapa keadaan mengarah kita pada pilihan section sesaria sebagai berikut
     
1.      Adanya gestosis
2.      Anak yang sangat besar
3.      Gaat janin
4.       Pertumbuhan janin terhambat
5.      Primi tua
6.      Adanya kelahiran mati pada anamnesis
Berbagai macam obat insulin:
1.      Insulin kerja cepat—Humulin R (40 IU,100 IU) dan Actrapid Human 40,100
2.      Insulin kerja menengah—monotrad Human 40,100 dan Mixtrad 30/70
(Obstetri Patologi, Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran. Hal 116-118)

DAFTAR PUSTAKA
Ai Yeyeh Rukiyah.2010. Asuhan kebidanan 4 Patologi. Jakarta: Tim
Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran. EGC.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar