Jumat, 06 Februari 2015

KEHAMILAN DENGAN HIPERTENSI


 
KEHAMILAN DENGAN HIPERTENSI

1.      Definisi
Hipertensi karena kehamilan yaitu : tekanan darah yang lebih tinggi dari 140/90mmHg yang disebabkan karena kehamilan itu sendiri, memiliki potensi yang menyebabkan gangguan serius pada kehamilan. (Sumber: SANFORD,MD tahun 2006).

Nilai normal tekanan darah seseorang yang disesuaikan tingkat aktifitas dan keseatan secara umum adalah 120/80mmHg. Tetapi secara umum, angka pemeriksaan  tekanan darah menurun saat tidur dan meningkat saat beraktifitas atau berolahraga 

Hipertensi berasal dari bahasa latin yaitu hiper dan tension. Hiper artinya tekanan yang berlebihan dan tension artinya tensi. Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah suatu kondisi medis dimana seseorang mengalami peningkatan tekanan darah secara kronis (dalam waktu yang lama) yang mengakibatkan angka kesakitan dan angka  kematian. Seseorang dikatakan mendetita tekanan darah tinggi atau hipertensi yaitu apabila tekanan darah sistolik >140 mmHg dan diastolik >90 mmHg. (sumber : FK UI 2006)

Hipertensi karena kehamilan yaitu : hipertensi yang terjadi karena atau pada saat kehamilan dapat mempengaruhi kehamilan itu sendiri biasanya terjadi pada usia kehamilan memasuki 20 minggu (sumber: kebidanan).
(Ai Yeyeh Rukiyah, Asuhan Kebidanan 4 Patologi. Hal: 167-168)

            Hipertensi yaitu peningkatan tekanan sistolik sekurang- kurangnya 30 mmHg atau peningkatan tekanan diastolik sekurang-kurangnya 15 mmHg, atau adanya tekanan sistolik sekurang-kurangnya 140 mmHg dan tekanan diastolik sekurang-kurangnya 90 mmHg. Hipertensi juga dapat ditentukan dengan tekanan arteri  rata-rata 105 mm Hg atau lebihatau dengan kenaikan  20 mmHg atau lebih nilai-nilai yang disebutkan diatas harus  bermanifesti sekurang-kurangnya dua kesempatan dengan perbedaan waktu 6 jam atau lebih dan harus didasarkan  pada nilai tekanan darah  sebelumnya yang diketahui.

            Hipertensi kehamilan berkembangnya hipertensi selama kehamilan atau 24 jam pertama postpartum pada seseorang yang sebelumnya normotensi. Tak ada petunjuk-petunjuk lain dari pre-eklamsia atau penyakit vaskuler hipertensi. Teknan darah kembali dalam batas normal dalm sepuluh hari setelah persalinan. Beberapa pasien dengan hipertensi kehamilan  sebenarnya mungkin mengidap preeklamsia atau penyakit vaskuler hipertensi, tetapi mereka tidak mempunyai criteria untuk diagnosis ini.

            Proteinuria yaitu  adanya protein dalam urine dalam jumlah lebih besar dari 0,3 g per liter urine 24 jam atau dalam konsentrasi lebih besar dari 1 gram per liter (1+ sampai 2+ dengan metode turbidimetrik standard) pada kumpulan urine sacara acak pada dua atau lebih kesempatan sekurang-kurangnya dengan  beda waktu 6 jam. Contoh urin harus bersih—sebaiknya urine midstream  atau yang diambil melalui kateter.

             Edema yaitu  akumulasi cairan yang menyeluruh dan berlebihan dalam jaringan umumnya ditampakan dengan adanya pembengkakan ekstremitas dan bawah.

            Pre-eklamsia yaitu berkembangnya hipertensi  dengan pre-eklamsia atau edema atau keduanya yang disebabkan oleh kehamilan atau dipengaruhi oleh kehamilan yang sekarang. Biasanya  keadaan ini  timbul setelah usia kehamilan 20 minggu tetapi  dapat pula berkembang sebelum  saat tersebut pada penyakkit trofoblastik. Pre-eklamsia merupakan gangguan yang  terutama terjadi pada primigravida.

            Eklamsia yaitu terjadinya satu atau beberapa kejang  yang bukan diakibatkan oleh keadaan serebral lain seperti epilepsi, atau perdarahan otak pada pasien dengan pre-eklamsia. 

Pre-eklamsia atau eklamsia penyerta:  berkembangnya pre-eklamsia atau  eklamsia pada pasien dengan penyakit vascular hipertensi  kronik atau penyakit ginjal. Bila hipertensi mendahului kehamilan , seperti yang diperlibatkan oleh catatan  tekanan darah sebelumnya,  suatu peningkatan tekanan sistolik 30 mmHg atau peningkatan tekanan diastolic 15 mmHg dan berkembangnya proteinuria, edema atau keduanya  harus  terjadi selama kehamilan untuk menetapkan diagnostik. (Kapita Selekta, Kegawatdaruratan  Obstetri dan Ginekologi. Hal : 236)

2.      Etiologi
Keturunan/genetik, obesitas, stress, rokok, pola makan yang salah, emosioal, wanita yang mengandung bayi kembar, ketidak sesuaian RH, sakit ginjal, hiper/hypothyroid, koarktasi aorta, gangguan kelenjar adrenal, gangguan kelenjar parathyroid. ( Ai Yeyeh Rukiyah, Asuhan Kebidanan 4 Patologi. Hal : 168)

3.      Manifestasi klinis
Gejala yang biasanya timbul pada ibu yang mengalami hipertensi pada kehamilan harus diwaspadai jika ibu megeluh : nyeri kepala saat terjaga, kadang-kadang disertai mual, muntah akibat peningkatan  tekanan intrakranium, penglihatan kabur, ayunan langkah yang tidak mantap, nokturia, oadema dependem dan pembengkakan.

4.      Klasifikasi hipertensi
 Kelainan yang menyebabkan hipertensi yang timbul sebagian akibat  kehamilan dan akan menghilang pada masa nifas seperti: hipertensi tanpa protein urin atau oadema, preeklamsia ringan atau berat, eklamsia, hipertensi kronis, kehamilan yang memperburuk hipertensi, hipertensi sementara (transient hypertension). ( Ai Yeyeh Rukiyah, Asuhan Kebidanan 4 Patologi. Hal : 168).

5.      Pencegahan Penyakit Hipertensi
Pencegahan kejadian hipertensi secara umum  agar menghindari tekanan darah tinggi adalah dengan mengubah kearah hidup sehat, tidak terlalu banyak pikiran, mengatur diet/pola makan seperti rendah garam, rendah kolesterol dan lemak jenuh, meningkatkan konsumsi buah dan sayuran, tidak mengkonsumsi alkohol dan rokok, perbanyak makan mentimun, belimbing dan juga jus apel dan seledri setiap pagi. Bagi yang mempunyai keluarga riwayat penyumbatan arteri dapat  meminum jus yang dicampur dengan susu nonfat yang mengandung omega3 tinggi. ( Ai Yeyeh Rukiyah, Asuhan Kebidanan 4 Patologi. Hal : 168)

6.      Pengobatan penyakit hipertensi
Jika seseornag dicurigai hipertensi, maka dilakukan beberapa pemeriksaan yaitu anamnesa adakah dalam keluarga yang  menderita hipertensi. Dilakukan pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium, pegobatan nonfarmakologik, mengurangi berat badan bila  terdapat kelebihan  (IMT: >27), membatasi alkohol dan menghentikan rokok serta mengurangi makanan berkolesterol/lemak jenuh. Menghentikan konsumsi kopi yang  berlebih, berolahraga ringan, mengurangi asupan natrium (400 mmd Na/64 NaCL/hari) mempertahankan asupan kalsium dan magnesium adekuat, perbanyak unsure kalium (buah-buahan), tidak banyak pikiran, istirahat yang cukup. ( Ai Yeyeh Rukiyah, Asuhan Kebidanan 4 Patologi. Hal : 169)

PREEKLAMSIA
DATA SUBJEKTIF :
Kenaikan berat badan yang timbul secara cepat dalam waktu yang singkat menunjukan adanya  retensi cairan dan dapat merupakan  gejala paling dini dari preeklamsia. Pasien sadar akan edema yang menyeluruh , terutama pembengkakan pada muka dan  tangan. Keluhan yang umum adalah  sesaknya cin-cin pada jari-jarinya. Sebagai usaha untuk membedakan edema  kehamilan,  proses yang jinak, dari preeklamsia, tekanan darah pasien harus diketahui.

Sakit kepala :  meskipun sakit kepala merupakan gejala yang relative biasa  selam kehamilan, sakit kepala  dapat juga menjadi gejala awal  dari edema otak, sebagai konsekuensinya, tekanan darah  pasien harus ditentukan.

Gangguan penglihatan mungkin gejala dari preeklamsia berat dan dapat menunjukan spasme arteriolar retina, iskema, edema, atau pada kasus-kasus yang jarang, pelepasan retina
Nyeri epigastrium atau kuadran kanan atas menunjukan  pembengkakan hepar yang berhubungan dengan preeklamsia berat atau menandakan  rupture hematoma subkuler hepar.

DATA OBJEKTIF:
Pemeriksaan umum : tekanan darha meningkat.
Edema menunjukan retensi cairan.edema yang dependen merupakan kejadian yang normal selama kehamilan lanjut. Edema pada muka dan tangan tampaknya lebih  menunjukan retensi cairan yang patologik.

Kenaikan berat badan : kenaikan berat badan yang cepat merupakan suatu pen unjuk  dari retensi cairan ekstravaskuler.

Pemeriksaan retina :  spasme arteriolar dan kilauan retina dapat terlihat.

Pemeriksaan toraks: karena edema paru merupakan suatu komplikasi  dari  preeklamsia berat , paru-paru harus diperiksa secara teliti.

Reflek tendon profunda (lutut dan kaki): hiperefleksia dan klonus  merupakan penunjuk  dari peningkatan irtabilitas susunan syaraf pusat dan mungkin meramalkan suatu kejang eklamsia

Pemeriksaan abdomen :  rasa sakit daerah hepar merupakan suatu pertanda potensial yang tidak menyenangkan dari  preeklamsia berat dan dapat meramalkan rupture dari hepar

Pemeriksaan uterus penting untuk menilai usia kehamilan, adanya kontraksi uterus dan  presentasi janin.

Pemeriksaan pelvis : keadaan pelviks dan stasi dari bagian terbawah merupakan pertimbangan  yang penting dalam merencanakan  kelahiran pervaginam atau  per abdominan. (Kapita Selekta, Kegawatdaruratan  Obstetri dan Ginekologi. Hal : 237)
     
TES LABORATORIUM
            Pemeriksaan Darah Lengkap dengan Apusan Darah : peningkatan hematokrit dibandingkan nilai yang diketahui sebelumnya memberi  kesan hemokonsentrasi, atau menurunnya volume plasma. Jika hematokrit lebih rendah dari yang  diperkirakan, kemungkinan  hemolisis intravaskuler  akibat proses hemolisis  mikroangiopatik perlu  dipertimbangkan. Analisa apusan darah tepi dapat mengungkapkan  sel-sel darah merah yang mengalami distorsi dan skitosit.

Urinalisis :  proteinuria merupakan  kelainan yang khas pada pasien  dengan preeklamsia.  Jika contoh urin yang diambil secara acak  mengandung protein 3+ atau 4+ atau urin 24 jam  mengandung 5 g protein atau lebih , preeklamsia dikatakan ‘berat’. (Kapita Selekta, Kegawatdaruratan  Obstetri dan Ginekologi. Hal : 238)

KEPARAHAN PROSES PENYAKIT
Preeklamsia diklasifikasikan sebagai berat jika pasien mempunyai  satu dari tanda-t      anda / gejala-gejala sebagai berikut :

1)    Tekanan darah sistolik 160 mmHg  atau lebih, atau diastolic 110 mmHg  atau lebih,  pada sekurang-kurangnya dua pemeriksaan  dengan interval 6 jam, dan pasien dalam keadaan tirah baring.
2)       Proteinuria 5 gram atau lebih dalam urin 24 jam (3+ atau 4+ pada pemeriksaan kualitatif
3)       Oliguria (500 ml atau kurang dari 24 jam).
4)       Gangguan otak atau visual.
5)       Nyeri epigastrum atau kuadran kanan atas.
6)       Edema paru atau sianosis
7)       Hemolisis
(Kapita Selekta, Kegawatdaruratan  Obstetri dan Ginekologi. Hal : 238)


FAKTOR-FAKTOR PREDISIPOSISI
1)         Nulipara dengan umur belasan tahun.
2)       Pasien yang miskin dnegan pemeriksaan  antenatal yang kurang atau tidak sama sekali dan    nutrisi yang buruk, terutama dngan diet urang protein.
3)         Mempunyai riwayat preeklamsia atau eklamsia dalam keluarga.
4)         Mempunyai penyakit vascular hipertensi sebelumnya.
5)         Kehamiln-kehamilan dengan trofoblas  yng berlebihan  ditambaah vili korion:
       
a.                Kehamilan ganda
b.               Mola hidatidosa
c.                Diabetes mellitus
d.               Hidrops fetalis

KOMPLIKASI POTENSIAL

Komplikasi-komplikasi maternal meliputi eklamsia, solution plasenta, gagal ginjal, nekrosis hepar, rupture hepar, DIK, anemia hemolitik mikroanglopatik, perdarahan otak, edema paru dan pelepasan retina.
Komplikasi-komplikasi janin meliputi prematuritas,  insufiensi utero-plasental, retardasi pertumbuhan intrauterine dan kematian janin intrauterine.

PENATALAKSANAAN DAN PENDIDIKAN PASIEN
Prinsip umum : preeklamsia menetap hingga kehamilan berakhir. Sebagai konsekuensinya , kelahiran janin dan plasenta merupakan  pengobatan satu-satunya . tujuan penatalaksanaan adallah :
a.       Mencegah kejang dan komplikasi lainnya.
b.      Melahirkan bayi hidup.
c.       Melahirkan dengan trauma minimal terhadap ibu dan bayi.
d.      Mencegah keadaan patologik yang tersisa.

Pasien-pasien dengan tekanan darah yang meningkat diatas 140/90 mm Hg  harus dirawat inapkan untuk evaluasi. Perencanaan kelahiran tergantung  pada :
a)         Umur kehamilan.
b)         Beratnya proses penyakit.
c)         Keadaan serviks.

Preeklamsia Ringan : bila aterm, kelahiran dianjurkan untuk mencegah komplikasi ibu dan janin. Sebelum aterm, tirah baring dirumah sakit biasanya dianjurkan sebagai usaha untuk mempertahankan  pasien dalam pengawasan  yang cermat. Tekanan darah diperiksa 4x/ hari. berat badan, protein urin  dan keluaran urin diperiksa setiap hari. sebagai tambahan, jumlah trombosit, pengeluaran estriol, nonstress test dan sonografi membantu evaluasi kesehatan ibu dan janin.

Preeklamsia berat :  pasien dirawat inapkan dengan posisi  tidur miring (rateral combent position) untuk meningkatkan filtrasi glomerulus. Ttekanan darah, berat badan, protein urin, masukan  dan keluaran dipantau  dengan ketat.  Tes-tes diagnostik dasar  mengevaluasi beratnya proses penyakit dan keadaan janin.

Terapi anti kejang : biasanya magnesium sulfat dinjurkan  untuk mencegah kejang terutama selama  persalinan. Dosis awal  4 grm dilarutkan  dalam 100 ml dekstrosa 5% dan diberikan intravena dalam waktu 10 sampai 30 menit. Kemudian diikuti dengan 1 sampai  2 g perjam dalam infuse intravena yang diencerkan. Efek terapi magnesium sulfat  dapat diperiksa secara klinis  dengan aktifitas reflex patella. Reflex dan klonus kaki yang hiperaktif memberi kesan  kebutuhan pengobatan yang meningkat . tidak adanya reflex menunjukan bahwa kecepatan infuse harus dilambatkan  atau dihentikan, karena hilangnya reflek patella  merupakan tanda pertama dari  keracunan magnesium. Aliran urin dan pernafasan  harus dipantau secara ketat. (Kapita Selekta, Kegawatdaruratan  Obstetri dan Ginekologi. Hal : 239-240)
Daftar Pustaka
Ai Yeyeh Rukiyah.2010. Asuhan kebidanan 4 Patologi. Jakarta: Tim
Kapita Selekta. Kegawatdaruratan Obstetri dan Ginekologi. Jakarta: EGC









Tidak ada komentar:

Posting Komentar